Kali ini saya kepengen gudeg, bosen dengan gudeg mercon dan gudeg permata kemudian saya memutuskan untuk makan di gudeg pawon. Waktu pertama kali saya mendengar nama gudeg pawon yang terlintas adalah makan gudeg di pawon (baca: dapur), duduk diatas amben yang beralaskan tikar dan ternyata setelah sampai di gudeg pawon ini yang saya temui tidak jauh berbeda dengan apa yang saya bayangkan. 1 hal yang diluar bayangan saya adalah kita harus ngantri. Iya mau makan aja harus ngantri, inilah yang disebut perjuangan.

Menemukan lokasi gudeg pawon ini tidak cukup sulit menurut saya, lewat jalan Kusumanegara ambil arah timur menuju JEC nanti sebelum Swalayan Pamela belok kanan menuju kampus UAD dan UTY. Masuk jalan kecil ini lurus saja, jika anda datang setelah pukul 22:30 maka tidak akan sulit menemukan warung gudeg ini karena sudah dipastikan warung ini adalah warung yang paling rame didaerah sini. Atau mungkin kalo pas tidak rame ya tinggal perhatikan saja biasanya didepan ada papan kecil yang bertuliskan “Gudeg Pawon Buka pukul 22:30″ nah berarti anda sudah sampai disana. Parkirkan kendaraan anda dengan rapi tentunya karena jalan disini cukup sempit dan tentunya akan sangat menganggu lalu lintas jika anda memakirkan kendaraan sembarangan. Setelah itu masuklah ke pawon dan siap-siaplah mengantri :D

Memasuki pawon kita akan disambut dengan nuansa pawon khas jawa jaman dahulu, kompor yang masih menggunakan kayu bakar, lincak atau amben dan alat-alat dapur tradisional lainnya. Karena mereka juga masih menggunakan dapur tersebut untuk memasak terlihat juga dinding dan atap yang mulai menghitam karena kepulan asap dari kayu yang dibakar. Saya suka suasananya, masih hangat serasa kembali ke desa saya. Sembari mengantri saya masih terus memperhatikan sudut-sudut dapur ini. Ketika tiba giliran untuk dilayani saya langsung diambilkan nasi yang porsinya khas gudeg, tidak terlalu banyak. Nasinya pun terlihat masih mengepulkan asap dan terlihat sangat pulen, saya semakin tak sabar untuk makan. Lalu mereka mengambil secuil gudeg yang jenisnya merupakan gudeg setengah basah (berkuah) dengan perpaduan rasa manisnya tidak dominan masih ada campuran rasa gurih. Kita tinggal memilih mau lauk apa, jika memesan ayam tinggal sebutkan saja mau bagian paha, dada atau bagian lainnya. Selain itu ada juga telur dan sambel goreng krecek, anda yang suka pedes jangan khawatir masih bisa makan gudeg pedes kok cobain aja “klethus” cabe rawit yang ada di sambel goreng kreceknya dijamin pedes.

Setelah mendapatkan sepiring nasi, gudeg dan lauk yang kita inginkan selanjutnya tinggal pilih mau makan dimana, yang masih ingin menikmati suasana pawon bisa duduk diatas amben atau ada juga beberapa buah kursi didalam pawon. Sedangkan yang ingin diluar menikmati udara malam juga disediakan meja kursi diluar tepat didepan pawon.

Nah, bagi anda yang kelaperan tengah malam sepertinya gudeg pawon ini bisa menjadi tempat anda makan. Bahkan saya kadang kalau ga lapar pun akan memaksa untuk menunggu sampai larut malam untuk menikmati sepiring gudeg pawon ini. Untuk harga pastinya saya lupa, tetapi sepiring gudeg dengan lauk paha ayam dengan minum 2 gelas menghabiskan uang tidak lebih dari Rp. 20.000,00.

source: hennpuspita blogspot

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*